Jaghur Stefanus, Orang Baik Yang Terlalu Cepat Pergi

- 28 April 2022, 19:01 WIB
Alfred Tuname
Alfred Tuname /Dokumen Pribadi/

 

Untuk membuat tamunya sedikit mabuk, tak sungkan-sungkan bapak Stef menuang sendiri sopi dari botol ke gelas para tamu. Tidak hanya sedikit, tetapi nyaris penuh gelas sekali ia tuang. Tamu ingin menahan tuangan tersebut, tapi canggung karena yang menuang adalah seorang wakil bupati. Para tamu hanya bisa tahan nafas. Tidak semua tamu mendapat perlakuan seperti itu, hanya kepada mereka yang sudah mendapat tempat di hati dan pikiran bapa Stef: mereka yang sudah sudah dianggapnya sebagai keluarga.

 Baca Juga: Isak Tangis Para Pegawai Sambut Jenazah Wabup Jaghur Stefanus di Halaman Kantor Bupati Manggarai Timur

Di rumah pribadinya, para tamu memang mendapat perlakuan yang santai sebagai keluarga. Di kantor wakil bupati, situasinya tampak lebih resmi dan kaku. Itu kalau tidak mau disebut tegang. Mungkin karena wibawa bapak Stef masih sebagai seorang birokrat, ketimbang politisi. Bapak Stef memang sangat perhatian penuh pada urusan kebijakan dan pemerintahan. Oleh karena itu, ia sangat tegas untuk urusan yang berkenaan dengan kepentigan rakyat Manggarai Timur

 

Untuk melayani rakyat Manggarai Timur, gaya kepemimpinan Jaghur Stefanus adalah kepemimpin birokratis dan tegas. Karena itu ia lebih hemat kata, tetapi perbanyak kerja. Gaya bahasanya, to the point; gaya kerjanya, terukur dan tepat. Karenanya, ia tak canggung-canggung mengoreksi dan memarahi staf-staf ASN yang tidak bekerja secara professional. Atas dasar itu, agak sulit publik melihat figur bapa Stef sebagai seorang politisi.  

 

Jaghur Stefanus memang bukan seorang politisi. Sekalipun ia terpilih sebagai Wakil Bupati dan Ketua Partai Nasdem di Manggarai Timur, karakter birokrat masih akrab melekat. Di awal suksesi Pilkada tahun 2018, ia tak sempat memikirkan dirinya untuk mencalonkan diri. Ajakan politis Agas Andreas untuk maju bersama pun sempat ia tolak. Tetapi atas desakan segenap masyarakat Kota Komba (khususnya, suku Manus, Ngusu, Deru, Mukun, dan Rembong), ia pun menyanggupi ajakan mekas Ande untuk mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati di Pilkada Tahun 2018 lalu. 

Baca Juga: Meninggal di Usia 63 Tahun, Berikut Profil Lengkap Wabup Jaghur Stefanus

Di masa-masa awal proses kampanye tahun 2017/2018, bahasa tubuh bapak Stef tampak tak nyaman. Mulutnya teralu kaku untuk mengucapkan metafora politik; matanya terlalu cepat layu untuk bertahan melawan pijar-pijar cahaya lampu di ujung malam. Ia yang terus menyebut diri “berasal dari Manus wonen keta” ini, selalu ingin cepat pulang, dan besok bisa ikut misa ekaristi pagi. 

Halaman:

Editor: Silvester Yunani


Tags

Terkait

Terkini

x